Article Update :

Contoh Artikel Budaya : “Ngangkang style” ala mahasiswa

Friday, January 18, 2013


Contoh Artikel Budaya Yang Bagus : Apakah anda rela jika melihat adik perempuan anda berboncengan dengan lelaki non muhrimnya? Apakah anda rela jika anak wanita anda diboncengi oleh lelaki dengan sangat mesra, mengalahkan kemesraan orang yang telah menikah? Coba Tanya pada hati nurani anda masing-masing. Penulis meyakini tidak ada yang rela dengan hal diatas. Kalau anda rela, maka masih perlu dipertanyakan. itu saudara anda atau bukan? Umat islam di aceh saudara anda atau bukan? Umat islam yang berada di lhoksemawe saudara anda atau bukan? Bukankah sesama umat islam itu bersaudara? Namun apakah anda rela jika marwah kaum wanita tercoreng akibat kita tidak menegur sanak saudara kita yang berboncengan dengan mesra dengan orang yang bukan muhrimnya.

Adanya pro dan kontra dalam masalah keputusan amir (pemimpin) lhoksmawe pada kalangan masyarakat itu menjadi hal yang biasa. Toh, setiap ada kebaikan, maka adapula yang akan memadamkannya. Namun perlu dipertanyakan lagi, seperti pertanyaan diatas. Ini bukan masalah bisa atau tidaknya duduk ngangkang di belakang teman lelakinya namun ini adalah suatu bentuk kepedulian amir lhoksmawe dalam mencegah kemungkaran.

Bahkan didalam hadis arba’in telah dijelaskan. “Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”.  (Riwayat muslim)

Jika kita telisik perkataan rasulullah SAW, hal yang dilakukan amir lhoksmawe sudahlah pantas. Karena beliau memiliki kekuasaan. Namun alangkah sayangnya jika kita menertawakan kebijakan wali kota tersebut. Itu sama saja kita menginjak-injak harga diri kita. Kenapa? Sudah tahu kita masih sebagai rakyat biasa, dan kita tidak mampu mencegah kemungkaran dengan kekuasaan malah kita tidak mampu menasehati mereka dengan lisan. ini malah menertawakannya? na'uzubillahiminzalik. dan malah yang paling buruk, kita tidak sanggup menolak dengan hati. Apakah kita pantas disebut sebagai umat rasulullah? apakah kita masih beriman?

Sekarang Tanya lagi kepada hati nurani kita masing-masing. Apakah anda tertawa saat kebijakan itu muncul?  kalau kita tertawa berarti anda... ? silahkan dijawab masing-masing.

Ketetapan memakai rok di Kampus 

Nah, ini dia satu solusi untuk tidak duduk sembarangan dan takutnya dapat mengganggu kenyamanan hati manusia yang melihatnya. Saat ini baru sedikit kampus yang mewajibkan para wanita untuk memakai rok. Buktinya saja, Universitas syiah kuala, baru Di FKIP yang masih patuh terhadap himbauan memakai rok bagi wanita. Alasannya guru itu mesti sopan dan rapi. Selain itu di fakultas kedokteran juga sudah mulai. Nah, jadi para ekonom maupun fakultas lain tidak dapat menerapkan wajib memakai rok bagi yang perempuan?  Mungkin Perlu Tanya lagi sama diri ini. “apakah saya pantas memakai jeans ketat dikampus”. Mereka mempertontonkan lekuk tubuhnya yang tidak ditutupi hijab. Inginnya kewajiban memakai rok dikampus menjadi ketetapan di semua kampus, khususnya di aceh. Bukanlah memakai hijab itu cukup dengan memakai jilbab atau kerudung. Akan tetapi menutupi setiap lekuk tubuhnya. Agar tidak memancing perlakuan negative dari kaum adam.

 “Tugas amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak hanya menjadi kewajiban para penguasa, tetapi tugas setiap muslim”. Nah, masih bingung kalau anda hanya diam saja melihat teman kampus wanita anda dibonceng oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Apapun alasannya mari kita cegah semampu kita. Bukan menertawai kebijakan pemerintah yang notabene masih saudara kita seiman.

Akhirnya, marilah sama-sama kita menepuk dada kita masing-masing dan tanyakan kepadanya. “apakah aku rela jika saudara perempuanku dibonceng oleh lelaki yang tidak aku kenal?”.
Demikianlah Contoh artikel Budaya yang bagus
Share this Article on :

5 comments:

Sinugraha said...

mantap bro... pemuda harus cerdas mensikapi keputusan pemerintah. :)

Al - 'Aqli said...

sama-sama dit, mudah2an aceh tidak disibukkan melulu dengan pro-kontra masalah syari'at. toh memang sudah menjadi hak otonomi khusus.

irfan said...

nah, yang lain bagaimana komentarnya?

Anonymous said...

Sesuatu yg baik bahkan teramat agung sekalipun belum tentu membuahkan hasil yg baik jika diterapkan pada tempat yg kurang semestinya. Gak percaya???? Tanam aja padi di arab sono.... Artinya....... Pikir sdr" lah, kan udah pada pinter"

gaga said...

mantap gan

Post a Comment

 

© Copyright Muhammad Irfan Redha 2012 -2013 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by M.Irfan Redha | Powered by Blogger.com.